Beberapa waktu lalu aku mulai
buta. Buta akan rasa yang terus menggerogoti pikiran dan hati. Rasa yang
mengubah kopi pait menjadi kopi super manis. Rasa yang mengubah cemburu jadi
senyum indah. Rasa yang selalu berdampak rindu.
Puluhan puisi tercipta karna
rindu itu. Rindu yang tak tersampaikan. Atau rasa yang tak terbalaskan. Ya,
rasa juga mengubah rindu menjadi mimpi. Mimpi dengan berbagai cerita. Entah itu
sebuah jawaban dari semua pertanyaan atau hanya bumbu-bumbu pemanis agar rindu
itu berwarna.
Dari mimpi yang indah,
sangat indah, hingga begitu sengsara, sudah aku rasakan, tuan. Dan kau tidak
tahu itu.
Hingga sekarang aku belum
menemukan rasa yang sama seperti halnya dirimu. Aku seperti menutup rapat pintu
itu, dan membukakan hanya jika tuan mengetuknya. Entah kapan.
Aku tidak pernah memikirkan apakah ini akan berbalas. Yang pasti aku hanya menikmati setiap degup rindu yang menyapaku. Begitu syahdu, tuan. Hingga ku terlena dan melupakan resiko patah hati yang siap menebas hati ini.
Bukankah tuan tidak
merasakan firasat apa-apa?
Aku sengaja tidak
mengirimkan isyarat apapun perihal rinduku ini. Sekali lagi, aku ingin
menikmatinya tanpa perlu tuan tahu.
Doa.
Hanya itu isyarat terbaikku.
Isyarat yang yang paling rahasia. Isyarat yang aku percaya akan membawa jawaban
terbaik.
Aku tidak perlu khawatir. Jika
jodoh berpihak kepada kita, sejauh apapun tuan berpetualang, hanya aku tujuan
kau pulang.
Super sekali ����
BalasHapus